Sep 12 2008
Ayat-ayat Tentang Puasa
Oleh : Tedi Sumardi

Teman2 Shoimin & Shoimat,
Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa, salah satu keistimewaann bulan ini adalah bulan diturunkannya Al Qur’an. Saya mau berbagi sedikit dari apa yang saya telah dapatkan dari ceramah ramadhan di Masjid Gedung Indosemen beberapa hari yang lalu.
Ayat-ayat Al Qur’an yang terkait dengan puasa adalah dari Al Baqarah 2:183 sampai dengan ayat 2:187. Dari 5 ayat tersebut tentang puasa tersebut terselip satu ayat 2:186 yang menarik untuk disimak karena (1) selain “terkesan” tidak ada hubungannya dengan ayat-ayat puasa lainnya, juga karena (2) redaksi ayat tersebut sedikit “menyimpang” dari pola-pola ayat lain yang dimulai dengan kata “YAS’ALUNAKA” (mereka bertanya kepadamu).
1. Ayat-ayat tentang Puasa :
Ayat 2:183 berisi perintah berpuasa, ayat 2:184 dan 2:185 berisi keringanan untuk yang sakit dan bepergian dan ayat 2:187 dibolehkannya berhubungan suami-istri di malam hari. Sedangkan isi ayat 2:186 adalah sebagai berikut :
[1] 2:186, Al-Baqarah
DAN APABILA HAMBA - HAMBA - KU BERTANYA KEPADAMU TENTANG AKU , MAKA ( JAWABLAH ) , BAHWASANYA AKU ADALAH DEKAT . AKU MENGABULKAN PERMOHONAN ORANG YANG MENDOA APABILA IA BERDOA KEPADA - KU , MAKA HENDAKLAH MEREKA ITU MEMENUHI ( SEGALA PERINTAH ) KU DAN HENDAKLAH MEREKA BERIMAN KEPADA - KU , AGAR MEREKA SELALU BERADA DALAM KEBENARAN .
Ayat ini secara redaksional tidak menyinggung puasa tetapi para mufasir sepakat bahwa ayat ini masih satu rangkaian dengan ayat sebelum maupun sesudahnya yang semuanya menjelaskan tentang puasa.
2. Ayat-ayat yang dimulai dengan “YAS’ALUNAKA” (mereka bertanya kepadamu).
Bahwa dalam Al Qur’an terdapat beberapa ayat yang turun dikarenakan oleh adanya beberapa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi oleh orang2 yang berinteraksi dengan beliau. Motif mereka bertanya macam2, ada yang memang mereka ingin tahu sesuatu, ada yang ingin mendapatkan klarifikasi atau konfirmasi dan juga ada yang cuma mau menguji Nabi (beberapa pendeta Yahudi sering melakukan pertanyaan yang sulit dijawab oleh Nabi).
Ayat2 yang terkait dengan pertanyaan2 tersebut selalu mempunyai pola yang sama, yaitu dimulai dengan “YAS’ALUNAKA” (mereka bertanya kepadamu) dan jawaban dari pertanyaan tersebut selalu dimulai dengan “QUL” (katakanlah!).
Berikut ini contoh dari ayat semacam itu :
[8] 7:187, Al-A`raf
MEREKA MENANYAKAN KEPADAMU TENTANG KIAMAT : ” BILAKAH TERJADINYA ? ” KATAKANLAH : ” SESUNGGUHNYA PENGETAHUAN TENTANG KIAMAT ITU ADALAH PADA SISI TUHANKU ; TIDAK SEORANGPUN YANG DAPAT MENJELASKAN WAKTU KEDATANGANNYA SELAIN DIA.
Ayat2 yang seperti di atas ini terkesan Tuhan adalah jauh dari orang yang bertanya dan Nabi bertugas sebagai kurir pembawa jawaban, bahkan kata2nya pun terkesan didiktekan (diimlakan). Teman2 bisa melihat ayat2 lain yang serupa dengan ayat di atas di bagian bawah tulisan ini untuk referensi.
Ayat 2:186 yang kita bicarakan ini walau secara substansi tidak berbeda dengan ayat-ayat YASALUNAKA yang lain tetapi pola jawabannya secara redaksional tidak mengikuti pola yang baku, coba perhatikan secara seksama bunyi ayatnya (Al Baqarah 2:186):
DAN APABILA HAMBA - HAMBA - KU BERTANYA KEPADAMU TENTANG AKU , MAKA (JAWABLAH), BAHWASANYA AKU ADALAH DEKAT. AKU MENGABULKAN PERMOHONAN ORANG YANG MENDOA APABILA IA BERDOA KEPADA - KU, MAKA HENDAKLAH MEREKA ITU MEMENUHI ( SEGALA PERINTAH ) KU DAN HENDAKLAH MEREKA BERIMAN KEPADA - KU , AGAR MEREKA SELALU BERADA DALAM KEBENARAN.
Bahasa Arabnya adalah sebagai berikut :
(wa idza saa’alaka ibaadii, anni fa inni qariib, ujiibu da’watadda’i idza da’ani, falyastajiibuuli wal yu’minuubii la’allahum yarsyuduun)
Saya kutipkan terjemah per kata-nya sekalian biar kita bisa memahami lebih dekat ayat tersebut juga untuk menunjukan bahwa ayat tersebut tidak ada kata QUL :
(Wa = dan, idza = bila, saa’ala = bertanya, ka = kepadamu, ibaadii = hamba-hambaku, anni= tentang Aku, fa = maka, inni = sesungguhnya Aku, qariib = dekat, ujiibu = aku mengabulkan, da’watadda’i = do’a mereka, idza = bila, da’ani = berdo’a kepadaku dst)
Ayat tersebut oleh penterjemah Depag diberi tanda kurung ”jawablah” kata tersebut hanya tambahan dan sifatnya adalah redundant (sesuatu yang tida diperlukan) karena teks aslinya pun tidak ada kata QUL (katakanlah). Karena ayat ini masih dalam rangkaian ayat-ayat mengenai puasa maka tidak dipakainya kata QUL seakan-akan Tuhan ingin mengatakan bahwa Dia itu begitu dekatnya dengan orang-orang yang berpuasa, sehingga tidak memerlukan kurir lagi untuk menyampaikan pesan-Nya maka jawabannya pun berupa kalimat langsung dari Tuhan…yaitu bahwasanya aku adalah dekat (tanpa didahului kata QUL atau ”katakanlah”).
Kalimat berikutnya mengatakan bahwa Tuhan akan mengabulkan do’anya orang-orang yang berpuasa, hal ini sesuai dengan hadist Nabi yang mengatakan bahwa ada tiga orang yang do’anya tidak terhalang, yaitu (1) do’a orang yang berpuasa (2) do’a orang yang teraniaya dan (3) do’a pemimpin yang adil.
Kesimpulan :
1. Bahwa berpuasa bisa mendekatkan kita dengan Tuhan.
2. Banyak2lah berdo’a, mumpung pintu rahmat Tuhan sedang dibukakan seluas-luasnya selama bulan puasa ini.
Wallahu’alam.

“(Yaitu) ber-PUASA sebagaimana diwajibkan atas orang-orang SEBELUM kamu agar kamu bertakwa” (Al-Baqarah 183).
Keluarga Alumni Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta Angkatan (masuk) 1976, tanpa memandang jurusan. Jurusan yang ada waktu itu : Ekonomi Perusahaan, Akuntansi, Umum dan Pertanian. 