Sep 14 2008
Kenangan Kepada Kawan: Puasa di Yogyakarta (True Story)
Oleh : Syahril Bakhsir a.k.a Uyung
Ini pengalaman 30 tahun (tri dasawarsa) yang lalu sewaktu kuliah di FE
UGM. Aku sering “sinau bareng” dengan Adji Firmantoro di rumahnya di
Jalan Jend Sudirman No 52A (sekarang sudah jadi Toko Buku “Gramedia”).
Nyonya Sadali (ibundanya Adji Firmantoro) sering “menyandera” aku agar
berbuka Puasa di rumahnya. Bukan itu saja. Ani (istrinya Adji
Firmantoro) yang buka salon rambut di dekat jembatan ke arah Bonbin
Gembiraloka sampai tidak mau menerima ongkos gunting rambut, alias
“gratis” untukku selama bulan Ramadhan. Semoga Allah membalas kebaikan
keluarga Adji Firmantoro.
Adji Firmantoro kalo buka puasa bukannya makan dulu, melainkan minum
teh hangat barang 2 – 3 teguk dan langsung ngudut rokok kretek Dji Sam
Soe ndisek. Langsung dia hoyong jalannya kayak orang teler. Nama
panggilan kesayangan untuk Adji Firmantoro adalah “Luluk”.
Yang uniknya Bambang “Kodok” Pramono. Pas mau berbuka Puasa dia datang
ke tempat kostku di Tegal Lempuyangan dengan Honda CG-125 warna merah
marun metalic, mau ngajak aku “mentraktir” buka Puasa di restoran
(nama restorannya aku lupa) seberang jalan Stasiun Tugu, di samping
seberang jalan Hotel Garuda dari arah Jembatan Kleringan. Aku milih
menu tongseng KAMBING setengah masak sementara Bambang Pramono pesan
tongseng BABI 3/4 masak. Belum waktunya buka Puasa, eh … Bambang
Pramono sudah “duluan” menyantap hidangan. Katanya begini : “Sorry
lho Yung … aku makan babi ndisek yo …”
Oalah Mbang … kosuen keselak ngeleh kon. Yang duluan “lapar” malahan
dia, bukannya aku. He he he
Bambang Pramono kalo ujian entuk nilai A atau B pasti dia ntraktir
kanca-kancane makan di restoran, apalagi kalo dia tahu kalo nilai kita-
kita ini “jeblok” dapat D atau F. Sungguh besar rasa simpati Bambang
Pramono sama kawan-kawannya yang “enggak lulus”. Pernah dia bilang
sama aku begini : “Yung … kamu dapat nilai F itu bukannya karena kamu
goblok, melainkan karena kamu enggak sinau saja …”. Oalah Mbang … sami
mawon, aku di-kon ngulang tahun ngarep je …
Ngenteni 2 Semester maneh. Itu mata kuliah Ekonomi Mikro I dari Faried
Widjaja MA, untuk nyari nilai C saja angelnya bukan main. Begitu juga
dengan Ekonomi Internasional I dari dosen Sudiyono yang membahas
masalah transaksi NPI (Neraca Pembayaran Internasional) Balance of
Payment yang defisit. Untuk “ngepek” rumus Post Keynesian Y = C + I
+ S +G + (X-M) malah konangan dosen. Belakangan baru tahu, bahwa yang
namanya “defisit” itu adalah kalo M > X, artinya jumlah Impor LEBIH
BESAR daripada Ekspor. Oalah … koq bodohnya aku di bulan Ramadhan. Tak
utak-atik rumus Yg = Cg + Ig + Sg + Gg + Aid + Grant + Pampasan
Perang + (Xg – Mg), tau-tau yang keluar jawaban yang benar untuk
“defisit” adalah Mg > Xg. Semprul tenan. Soal ujian yang ditanyakan
adalah “defisit Balance of Payment” (M > X), sedangkan jawaban yang
aku bikin adalah Government Expenditures (Gg variable). Jauhnya kemana-
mana … enggak nyambung. Maklum … bulan Puasa. Sontit ngarit … sampai
keluar pisuhanku yang ‘kuno’ Solo dari Danarto asal Sragen, pengarang
buku best seller “Orang Jawa Naik Haji”.
(Oom Eko Handoyo yang milih Jurusan Umum nyengir aja kapan tau kalo
aku dapat nilai D untuk mata kuliah Ekonomi Internasional I). Rasakno
kon.
Ngomong-ngomong, kan syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Muda
Ekonomi, IP-nya rata-rata minimal harus 2,34 atau C+. Sedangkan untuk
memperoleh fasilitas Beasiswa Supersemar (Perusahaan Rokok ‘Gudang
Garam’, Ikatan Dinas, etc) atau menjadi Asisten Dosen FE UGM, IP-nya
rata-rata minimal harus 3,00 atau B. Aku yo gumun dhewe … koq aku
masih hafal sampai sekarang.
Kisah lainnya adalah memergoki Bambang “Itok” Waskito di Mess BRI
Jalan Sagan, di sebelah kiri seberang jalan Gedung Laboratory School
SM Pembangunan I IKIP, tempat SMA-ku. Aku tahu kalo dia hari itu lagi
“enggak Puasa”, tapi mukanya dibikin sedemikian rupa “seolah-olah”
Puasa beneran dan badannya sengaja dilemes-lemesin. Aku bilang
begini : “Itok … kayak Puasa aja lu”. Itok pun manggut-manggut. Tidak
“mengiyakan” pun juga tidak “menidakkan”. Piye toh iki …
Lain halnya dengan kawan kita Cak Sani yang kost di Jalan Kaliurang.
Di bulan Ramadhan “beliau” satu ini puasa sambil tetap sregep sinau
(saban dino lho …) latihan soal-soal Akuntansi dari Himpunan Soal-
Jawab Dumairy plus Soal-Jawab Mulyadi, Ak plus Soal-Ujian Senior tahun-
tahun lalu. Uedan tenan. Hebatnya, dia sinau hanya dengan penerangan
1 (satu) lampu bohlam Philips clear remang-remang 40 watts thok.
Salut aku sama Cak Sani yang ulet ini. Kapan bersalaman dengan Cak
Sani, pernah aku guyoni begini : “Cak Sani … kalo sampeyan salami
aku dengan TANGAN KANAN berarti sampeyan pake JURNAL DEBET, tetapi
pake JURNAL KREDIT (TANGAN KIRI) untuk cebok”.
Begitu juga dengan Eko Handoyo di tempat yang sama. Kalo Oom Eko lagi
serius puasa sampai-sampai dia harus “copot kelambi”, ben kethok
petenge sing kempes karena Puasa. Embuh aku opo awak’e iki mau wis
sarapan pagi opo durung.
Yang surprised aku adalah kalo melihat Mas Pomo, angkatan 1975 di
kampus. Di bulan Puasa penampilannya selalu tetap segar bugar (plus
gaya “guyu”-nya yang khas itu). Setiap kali ketemu pasti dia selalu
tersenyum, tertawa sejuk, guyonan, dan ngemongi kalo tukar pikiran.
Kalo Gudartanti orangnya serius banget, jarang senyum. Sebenarnya
sebelumnya aku sudah menghindar agar dia tidak duduk di sampingku
pada saat kuliah. Sementara dosen memberikan materi kuliah, eh si
Tanti di sampingku malah memberikan “kuliah tambahan Ramadhan” untuk
aku. Dinasehatinya aku macam-macam selama 30 menit. Katanya begini :
“Yung … di bulan Puasa ini kamu cobalah begini, cobalah begitu, harus
apa, harus bagaimana, sebaiknya ini, sebaiknya itu, seperti ini,
seperti itu, ngikuti ini, ngikuti itu, contoh ini, contoh itu, begini
lho, begitu lho, etc”. Aku cuma jawab pendek saja : “Iyo Mbak
Tanti”. Manut ae. Padahal konsentrasiku untuk mengikuti kuliah jadi
“buyar” gara-gara dengerin nasehat Tanti. Istilah Bataknya : Suka
kali kau nasehati aku, bah. Pokoknya kapan setiap kali ketemu sama
Gudartanti pasti dia kasih “wejangan”. Meskipun demikian, aku merasa
beruntung masih punya kawan yang mau memberikan nasehat, saling ingat
mengingatkan, yang tidak segan-segan menegur aku jika melakukan
perbuatan yang tercela.
Cerita lainnya, adalah waktu KKN (Kuliah Kerja Nyata) selama 3 bulan
termasuk bulan Ramadhan di Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Prambanan
(masuk wilayah Surakarta, bukan DIY) bersama :
- Nanang Budi Santosa (Fak Teknik Mesin) dan ketemu lagi pas dia kerja
di PT AAF Lhokseumawe.
- Tri Insiwi Trisnowati (Fak Kedokteran Gigi) asal Grobogan, Batang.
- Naqsabandiyah (Fak Teknologi Pertanian) asal Kebumen.
Karena peralatan masak di rumah Lurah Sambirejo terbatas dan sering
dipakai bergantian dengan penghuni rumah (keluarga Lurah), maka kami
berempat urun rembuk sepakat untuk “tidak memasak nasi” melainkan
kukus beras ketan seperti layaknya lontong atau ketupat. Cuma wadahnya
adalah kaos kaki yang masih baru. Walhasil produk akhir lontongnya
berbentuk KAKI. Oalah …
Anak gadis Lurah Sambirejo ayu tenan, sampai-sampai aku kepincut je …
Lha wong dia sama sekali enggak pake dandanan polesan kosmetik alias
polos apa adanya saja sudah cantik dan anggun. Nyaris batal puasaku.

30 tahun paseduluran tidak luntur
Komentar Samasta Pradana a.k.a Cah Mbeling
Cerita mas Uyunk iki sangat original. Oleh karena itu, bagaimana kalau cerita-cerita nostalgia seperti ini dan yang nulis siapapun dikompilasi jadi satu terus dijadikan buku nostalgia?
Mengko buku nostalgia direview, dipoles lan dikonsultani karo ponakanku Olie, terus dicetak nggone Parjono. Dilengkapi foto-foto JADUL. Wah… wis nyamleng tenan. Termasuk ceritaku dek pas lagi nonton hasil ujian Pancasilane pak Abbas Hamami lan neng mburiku wis ndingkik Sani karo ngguyu cekakakan nduduhi yen aku ora lulus Pancasila ….he….he….he…… Dadi yen mbeling ora lulus Pancasila yo wis tepak………………
Saya setuju mas Uyunk sebagai kompilatornya. Kemudian cerita Djo yang banyak juga bisa di recall lagi, kalau perlu Djo ketemu sama keponakan kita Olie biar me-rewrite cerita dan meluncur dengan alami.
Regards,
Komentar Djauhari Oratmangun
Saya kira cerita seperti ini sangat banyak diantara kita, hanya saja Uyung masih punya memori yang luar biasa sehingga semua masih diingat detailsnya… thanks uyung…usulan Sam bagus banget, saya punya komunitas bergaul yang lain lagi selama di Jogja dan buku sejenis ini sudah kita terbitkan tahun 2006… pakai sponsor segala (yangt punya perusahaan loh…), saya kira ada baiknya kita kumpulkan saja cerita-cerita seperti ini, Uyung yang kompilasi… bagaimana…???? coba lihat cerita uyung… ternyata pesan yang tersiratkan dari gaya gaul kafegama 76 bahkan sejak kuliah luar biasa… saya punya cerita tidak banyak tetapi lucu lucu juga dengan Hari Utomo (ngerjain PR ekonomietrik bareng ditempat kopsnya hari), dengan Yopi Abimanyu (jalan ke jakarta bareng ketemu bapaknya yang mantan komandan tentara PETA), mempersipakan seminar ekonomi Pancasila (kalau ngak salah uyung pernah cerita), keliling main bola sama eko dan hari, diskusi politik dengan Sam
(bakat Sam sudah kelihatan sejak mahasiswa), kecipratan ditraktir Bambang Kodok karena lulus bagus… banyak lagi cerita sama Prof Ted (bantuin suply silver queen buat pacar untuk itu jualan baju bekas…he…he..), Oni Bagenda (nyari pacar model jogja, ikut lomba dansa ala travolta sambil nyekolahin radio dan motor dan pegadaian) Judy (awal masuk ugm dan nyanyi bareng), Tanti, Erwin Salim Kahuripan (cari dana tambahan bareng dari sumber-sumber yang diragukan asal usulnya….he…he..), Rudy Arisnanto, Himawan (ke semarang sama-sama), Ambar, Marlina, Edy, Dwinda, Ito, dan teman-teman lainnya di jurusan Umum dan Pertanian dan jurusan lainnya… masih coba-coba diingat lagi… mudah-mudahan daya ingatnya pulih lagi seperti Uyung…Intinya, perlu kompilasi cerita seperti ini… anti diverifikasikan oleh objek yang diceritakan…
Salam hangat,
Komentar Bambang Pramono
Ha ha ha ……
Sobatku uyunk … selamat menunaikan ibadah puasa ….
Kon ojo eling2 lukisan yang aku pesan dari tetanggamu …. pengennya niru jaman renaisance … dadi2 metu wedok seng pupune segede gajah ….. mendingan lukisan karyamu … inget ga, warna kebiru biruan muter2 … membentuk terowongan waktu sampai lulus tetap tak pajang nong duwur ranjangku … malam2 kalau ga bisa tidur kupandangi dia sambil nyetel rick wakeman seng ngrosos teko speakerku nang duwur gentong sembari nggelXX. He he he what a beatifull memory
Best Regards,
Komentar YhaBrani
Memang luar biasa Gus Uyunk nih, ya gak mBang ?
Salut buat Uyunk yg mengingatkan para Kacang akan Kulit nya ….
Komentar Sani
Setuju kumpulan nostalgia dikompilasi dan dibukukan.
Uyung masih inget juga ya ihwal lampu yang temaram.Maklum “dijatah” oleh pak Kosan dan pada saat itu tahun 78an aliran listrik baru masuk ke wilayah Jln Kaliurang KM 5,5 sebelumnya pake lampu “strongking” ;(
Selamat bertauziah untuk Uyung dan berpuasa bagi rekan2 yang menjalani,
Salam,
5 responses so far

Keluarga Alumni Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta Angkatan (masuk) 1976, tanpa memandang jurusan. Jurusan yang ada waktu itu : Ekonomi Perusahaan, Akuntansi, Umum dan Pertanian. 
Wah…kayaknya aku gak bisa deh kayak Gus Uynk yg memorinya Ruarrrr biasa itu..
Aku juga lagi inget2 lagi kenangan2 wktu kuliah, habis kebanyakan kenangan wis dgn “pacar 76″ sih…jadi gak enak kalo diceritain…
Saya tadi jalan-jalan di internet, eh ko ada yang menarik perhatian saya. Setelah saya pelototin (krn hurufnya kecil), eh..ternyata ini kan
teman2 saya zaman beheula. Tapi sebelumnya saya mau cerita jugadisini..boleh ya. Begini…. Dulu, 33 th yang lalu saya juga sempat menjadi mahasiswanya Pa Mubyarto, Pa Heidrachman (alm) tapi sayangnya saya ternyata tidak piawai dengan angka2, yang lain ujian pake kalkulator, saya malah corat-coret bikin gambar. Saat itu saya tersiksa (kalo istilah anak2 kita sekarang “Bukan Gue Banget gitu loh”)..Nah kemudian setelah sempat penjurusan (saya di Ekonomi Perusahaan) saya pindah ke Seni Rupa di Bandung. Saya masih ingat awal2 kuliah mahasiswanya buanyak banget kan? dan saya jg relatif tidak lama di Balairung. Tapi sempet ikut di kejar-kejar tentara dan pansernya. saya jg sdh setengah mati mencoba untuk flahback mengingat nama2 terutama Pa Uyunk, Pa Bambang Pramono…..Tapi rupanya memori saya ko sdh lemot. Sedangkan Djauhari (halo jo!!), Thabrani, Rudi Arisnanto, Himawan saya inget banget karena sama2 jadi anak buahnya romo Lucas di REALINO. Juga Tanti, Peni dan Yopi yang dulu pakai motor trail dan rumahnya di jln daksa.
Wah…..senang rasanya bisa ktemu sohip2 lama walaupun baru disini. Oke Pa Uyung…smoga kawan2 semua sehat dan selalu dalam lindungaNya.
Mas Djoko met jumpa dan gabung dengan temen2 kafegama76.Untuk bantu menginget-inget, tolong kirim photo dan data2 seperlunya ke admin kafegama76.com. Salam
hehehehe….. ketahuan juga dech masa kecilnya bapakku ini… tapi zaman sekarang di fakultas ekonomi gampang dapat nilai A dan B. gak penah ikut kuliah udah dapat nila B.
di Fakultas MIPA susahyo dapat nilai B. dapat C aja udah senangnya minta ampun.
3120 http://uvanitiesxdo.copious-systems.com/tag/3120+phone+cellular/ : cellular…
phone…