Archive for September, 2008

Sep 29 2008

Profile Image of admin
admin

Kisah Masa Kecilku Bersama “Jagoan Xaverius”

Filed under Cerita Jadul

Oleh: Djauhari Oratmangun

Ngak bisa tidur karena tadi kebanyakan dinner, lumayan enak ditraktir teman Belanda….lumayan juga, biasanya go duch alias bayar sendiri-sendiri. Sambil makan tadi kita bahas banyak hal sambil ha…ha…he…he.. pakai wine segala (wuenak tenan)…lalu pulangnya ingin cerita banyak dengan rekan-rekan kafegama 76, lebih tepatnya sharing, membuka diri… siapa tahu ada manfaatnya… paling tidak lebih kenal saya …. he…he..

Episode Pertama : Masa kecil, ekonomi susah

Sering saya suka heran, perut dan asal saya bukan dari negeri wine… tetapi kok bisa menikmati wine… lalu terbayang masa kecil di Saumlaki (sampai kelas 4 SD)… pasti banyak yang tidak tahu dimana letaknya. Saumlaki adalah ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat… bayangkan sudah tenggara, di barat lagi… pokoknya jauh banget dari Jakarta. Ayah dan ibu adalah guru di SMP di Saumlaki. Ayah kemudian membuka SMA di kota Saumlaki, jadi juga merangkap guru SMA. Tahu kan kehidupan guru masa itu, sudah sengsara, di pelosok lagi… tetapi satu yang saya kagum pada kedua orang tua saya adalah keinginan mereka berdua untuk maju demi masa depan  anak-anaknya… makan boleh apa saja asal anak sekolah. Tahun 1964 kami sekeluarga naik kapal ke Ambon, karena Ayah dan Ibu “dipromosikan” untuk mejadi guru di kota Ambon. Saya masih terbayang naik kapal saat itu dari pulau Tanimbar ke Pulau Ambon bisa satu minggu. Satu saat kapal kehabisan air, jadi kita minum air laut yang sudah direbus sehingga rasa asinnya berkurang…. he..he..Oh ya belum cerita, saya lahir bukan di Maluku tetapi di Pulau Beo, Sangihe Talaud, tanggal 22 Juli 1957. Kenapa lahir disana ??? Ayah sekolah guru ke Menado, ketemu ibu yang juga guru, menikah di Menado, ditugaskan di Sangihe Talaud, jadilah saya dan adik saya Dharma lahir di sana (Dharma di Pulau Lirung). Tahun 1959 akhir, Ayah dan Ibu pindah ke tempat kelahiran ayah, Saumlaki.

Setiba di Ambon, kami ditampung di Desa Batu Meja, karena Ayah menjadi guru di SMP dan SMA Xaverius Ambon sedangkan ibu di SMP negeri Ambon. Cerita sedih, ceria, lucu dan banyak kejadian  yang luar biasa terjadi di Kota ini. Saya sendiri masuk SD Xaverius Ambon, dan bertahan disana sampai tamat SMA. Dalam perjalanan sekolah inilah ketemu dengan Judyono (sejak kelas 4 SD… koreksi yaa kalau salah), dengan John Bagenda (kira-kira sejak kelas 5 SD) dan Ed Tandelilin sejak SMP. Inilah 4 “jagoan Xaverius” yang kemudian merantau ke Tanah Jawa… he…he….. kalau sekarang kurang lebih ceritanya sama dengan “Laskar Pelangi” cerita jaman kecil di Belitung yang lagi laris manis di bioskop Indonesia. Judy itu otaknya encer sejak SD karena hampir tiap kali juara I, saya dan John nyusul dibelakan Judy. Sejak SMP, menyusul Ed Tandelilin. Naik kelas II SMA, Judy dan Oni ke Jogja, jadinya saya dan Ed ngak punya saingan lagi… he.. he, thanks nyong… saingan kami adalah guru-guru yang memberitahu soal-soal ujian kepada teman-teman sekelas lainnya karena “susah buat mereka” untuk mengalahkan  kami berdua apalagi Prof. Tandelilin…Inilah cerita kenapa setelah lulus SMA kami berdua langsung ke Jogja, ceritanya kan sudah ada advanced team kesana yakni Judy dan Oni, ada lagi satu teman namanya Hang, tetapi dia Universitasnya di Jawa Timur.

Awal-awal SD di Ambon, kesulitan ekonomi luar biasa… bukan hanya keluarga saya tetapi juga semua keluarga guru, apalagi jaman susah… sampai makan bulgur. Kami tinggal di Rumah Bambu di Batu Meja.. tanam sayur di pekarangan rumah, sayur “daun katok” namanya agar bisa dimasak santan sama ibu pakai ikan asin, jadi makan nasinya banyak. Nasi habis, kita makan “bulgur” jatah guru. Yang saya masih ingat, untuk masak kita ambil kayu bakar ke Batu Meja Atas (kampung soya), pikul ke rumah, untuk tambahan makan beberapa kali sama Ayah beli sayur di kampung, kemudian jual ke pasar induk Ambon, atau kiloin  kertas-kertas ulangan sekolah setelah diberi nilai dan dicatat hasilnya, dll. Banyak ceritanya. Percaya saya, jaman susah, tetapi kami bahagia, senang bisa selalu bersama keluarga. Saya cukup nakal jaman ini karena beberapa kali ikut berantem dengan warga kampung lainnya, lari dari rumah dan tinggal di pasar. Yang saya masih ingat sampai saat ini, Ayah cari saya ke pasar dan begitu ketemu saya dipeluk dan diajak pulang… katanya Bapak ngak Marah kok (pakai bahasa Ambon). Saya lari karena jaman Banjir di Ambon saya berenang di Kali dan nyari ikan… dilaporkan ke rumah, saya dengar Ayah marah, jadinya minggat…. he…he…. Oh ya jaman SD ini saya suka jadi Misdinar di gereja (judy juga), jadinya sewaktu tamat SD pingin jadi Pastor, sempat ke Pineleng, Menado, masuk seminari, hanya bertahan 6 bulan terus keluar… lanjutkan sementara di kampung Kamangta (kampung ibu saya) sebelum kembali lagi ke Ambon lanjutin SMPnya…Tamat SMP masih mencoba lagi untuk masuk Seminari di Kakaskasen, tetapi begitulah gagal lagi… memang ngak bakat jadi Pastor. Tamat SMA ditanya uskup dan Pastor lagi, saya bilang ngak mau, ingin sekolah ke UGM (maklum sudah tahu pacaran, mana mau masuk Seminari… he…he..)

Masa-masa di SD benar-benar susah secara material , tetapi kaya dalam banyak hal. Ayah yang sangat igin maju kemudian lanjutkan sekolahnya ke IKIP Ambon sambil aktif di Organisasi Politik. Kelas 6 SD kalau tidak salah, ayah memutuskan untuk menerjunkan diri secara penuh di Partai Politik dan memang kemudian terpilih menjadi anggota DPRD Maluku. pada saat itu juga beliau kemudian dari anggota DPRD diangkat menjadi anggota BPH (Badan Pemerintah Harian…kalau tidak salah), dan untuk itu diberikan rumah dinas di Tantui (sekitar 3 km dari kota Ambon), bersebelahan dengan Asrama Brimob Tantui, yang kemudian dibumi hanguskan, termasuk rumah kami, pada saat konflik di Ambon. Ibu tetap menjalani profesi Gurunya dan kemudian menjadi kepala Sekolah di SMP Hang Tuah (punya Angkatan Laut di Halong) dan SMP Negeri VI di Tanah Tinggi kota Ambon. Selama beliau menjadi kepsek di kedua sekolah ini, sempat menjadi Sekolah favorit dan terbaik di Ambon… ini kata orang-orang di Ambon, saya sudah kuliah di Jogja waktu beliau jadi Kepala Sekolah.

Episode Kedua:
Masa kecil, ekonomi pas pasan

Ada yang menarik dari pindah rumah, dari yang bambu ke rumah beton di tantui, dengan halaman yang luas dan 4 kamar. Kami tidak punya apa-apa waktu itu jadi untuk Gordyn, perlengkapan rumah, dapur dll dibantu oleh Pastor Paroki Ambon dan Suster-suster di sana. Satu yang sangat berkesan sampai saat ini adalah Suster Fransesco. Adik saya yang meninggal sampai dinamai Fransesco. Sewaktu pindah, saya masih ingat dapurnya dari Ubin Putih, saya sempat tidur dan bilang wow dingin banget… jadi ada cultural shock yang luar biasa. Untungnya Ayah dan Ibu bisa membekali kami semua sehingga menyikapinya dengan baik.  Oh ya Ayah juga diberikan kendaraan dinas Toyota Hardtop [ jadi keren habis dech jaman itu 1968). Sedangkan kami anak-anak yang sekolah dari kompleks tersebut (ada 5 anggota BPH) dan sekolah di Kota diangkut dengan mobil colt. Saya sendiri lebih senang ikut truck baknya asrama brimob karena ramai. he…he..Jabatan Ayah cukup baik saat itu, tetapi tetap saya bilang ekonomi masih pas-pasan karena memang gaji pegawai negeri pas pas an… banyak kenangan indah selama sekolah di SD dan SMP Xaverius pada saat itu.

Yang ingin saya ceritakan ada 2 hal yakni ikut Kelompok Smokers 234 yang bermarkas di Rumahnya Judy, serta ikut kelompok belajar yang bermarkas di rumahnya Edward Tandelilin.  jaman SMP dan SMA, saya tidak tahu asal mulanya saya ikut kelompok Smokers 234 (kesenangannya Dji Sam Soe), markasnya, maksudnya tempat nongkrongnya di Rumah Judy. kalau yang ini Judy punya banyak cerita, mulai dari bermain musik, dengerin musik, ikut pesta dansa dan disco, celana cut brai, mulai belajar pacaran, belajar ngerokok dll he… masa-masa indah yang tak terlupakan. Di sekolah kami ada kelompok band yang anggota-anggotanya Christ Kayhatu (almarhun), Judyono, John Tanamal, Dharma Oratmangun, John bagenda, Utha Likumahua (lebih senior dari kami) dan beberapa nama lainnya. Referensi musik kami saat itu dari majalah Aktuil. Ayah Judy kalau tidak salah setiap kali ke Jakarta minta dibelikan majalah tersebut. Poster-posternya ditempel di kamar Judy… (benar ngak Jud???). Kelompok ini, walaupun senang pesta dan ngumpul, belajarnya juga kencang…

Satu yang masih membekas dari masa sekolah ini adalah saat salah satu guru favoritt kami akan pindah ke SMA PSKD Jakarta, kami buat acara perpisahan buat beliau, setelah itu malamnya kami jalan sama-sama menelusuri jalan setapak kota ambon, sambil ngobrol. Rasaynya kehilangan benar, walaupun guru tersebut sebenarnya galak juga…he…he.. namanya Matanubun. Sebenarnya waktu Judy, Oni Bagenda dan Hang, pindah ke Jogja, saya juga merencanakan untuk kelas II SMA di Jogja dan sudah disetujui kedua orang tua saya. Anggapan di Ambon saat itu, kalau kelas 2 dan 3 SMA di Jawa maka kami akan ke Universitas bagus di Jawa. He..he.. betapa menariknya Jawa buat kami saat itu. Sayangnya saya tidak lolos “ujian terakhir” yang diberikan Orang Tua saya. Ceritanya, karena tahu saya akan ke Jawa maka kamar dibelakang rumah saya yang terpisah dari rumah Induk, diberikan pengelolaan sepenuhnya oleh saya, juga diberikan “kewenangan ” memakai Motor Honda Hitam 90 cc. Saya ingin dilihat apakah sudah bisa mandiri dan bertanggung jawab apabila dikirim ke Jawa. Nah saya tidak tahan dengan godaan dari tanggung jawab ini. Setiap malam keluar, ngebut di Ambon, mulai belajar pacaran… akhirnya motor di pinjam teman lainnya yang sedang asyiek pacaran dengan ponakan walikota, eee jatuh sehingga motornya rusak. Hobi lama kambuh, yakni ngak pulang rumah karena takut dimarahi (he…he…he..), untung ditampung salah satu guru kami di SMA yang cukup gaul….Ayah kemudian menjemput saya dengan dengan penuh kasih menyampaikan bahwa saya belum bisa menerima tanggung jawab yang diberikan, karena itu mereka (orang tua) putuskan agar SMA diselesaikan saja di Ambon, selanjutnya baru ke Jawa… he…he..

Banyak cerita selama SMA ini baik yang suka maupun duka, termasuk putus cinta jadinya suka lagu panbers.. awal dari cinta…liku tanpa bahagia… sudah suratan, ciintaku yang pertama dstnya…he…he..belajar dansa dikerjain Judy Cs (masih ingat ngak Judy, di rumah fredy phan… saya begitu sampai tengah lantai dansa, Judy putarin Lagu, terus Ono dempetin saya agar dansa dengan Hani). Waktu itu saya masih ingin bercita-cita jadi pastor, jadinya meluk cewek persepsi saat itu dosa (belum tahu enaknya sihhh). jadinya gemetaran ngak karuan… saya mencoba ingat lagu apa yang diputar tetapi sudah sudah..padahal beberapa waktu yang lalu masih ingat (faktor usia nech). Mulai belajar merokok, rokok ditaruh diantara dua tangan, terus dihisap seakan-akan sedang “fly” he…he  he, aksi doang. Yang jelas banyak kenangan. Nanti coba diingat lagi satu satu. Yang pasti karena gagal ujian dari ortu tersebut jadi serius belajar bersama Ed Tandelilin dengan satu tujuan sekolah ke Jawa, lebih tepatnya ke UGM Jogja.

Episode Ketiga:
Jogja, here we come

Judy dan John bagenda begitu naikl kelas II langsung puindah ke Jogja, ada beberapa teman juga yang pindah ke Surabaya dan Jakarta. Saya dan Edward tetap di Ambon. Komunikasi dengan teman-teman yang sekolah ke Jawa khsusnya Judy dan John terus dibina karena niat kami juga setamat SMA akan ke Jogja. Kenaikan ikelas dan Ujian akhir SMA prestasi cukup baik. Ada banyak kejadian menjelang selesai SMA yang cukup menegangkan pada saat itu.  Demi untuk lulus dengan “hasil” baik dan mengalahkan Edward dan saya maka pada saat menjelang ujian beberapa teman “berhasil” mendapat soal-soal ujian dari guru. Cerita ini kami berdua dapat setelah lulus dari FE UGM, teman-teman SMA juga yang cerita… komentar mereka, kita sudah dapat soal saja ngak bisa ngalahin kalian berdua, apalagi kalau ngak dapat soal…. he…he.. Setamat SMA, tanpa menunggu hasil ujian, kami berdua ke Jawa, Edward lewat Surabaya, saya lewat Jakarta, karena ingin nonton Deep Purple dulu yang show bulan Nov atau Des 1975 di Senayan…Meeting point kami di Jogja adalah di tempat kost Judy dan John di daerah Kota Baru… kalau tidak salah Jalan Kota Baru No. 10 …..

4 responses so far

Sep 29 2008

Profile Image of admin
admin

Puisi Putus Cinta

Filed under Cerita Jadul

Oleh: Henry Susanto


Dengan sebuah kata

Ingin kuungkapkan

Segala rasa yang akan singkirkan duka

Pada huruf huruf dalam rangkaian puisi cinta

Menggelora

Menyapa subuh yang berkecipuk dengan air kehidupan

KETULUSAN

Kasih sudah kupertaruhkan hidup ini bagi dirimu
Tetapi angin hari ini tetap terasa bukanlah milikku
Sebab tiupannya tidak lagi mampu menyejukkan hati
Tak seperti yang pernah kau janjikan dan bisikan
Lirih ditelingaku manakala kita khusuk mereguk manisnya cinta
Dan sekarang aku harus kembali menyapa sunyi
Sendiri diam bertahan ditengah kepungan kecemasan
Memilin milin suratan nasib dalam desah kegalauan

Kasih dengan apalagi dan harus bagaimanakah
Aku mesti memberi keyakinan kepada dirimu tentang
Cinta yang kugenggam dan kupersembahkan padamu
Selama ini seluruh dan sepenuhnya berselimut ketulusan
Tak ada segaris bingkai dusta yang coba kusembunyikan
Dan dari dirimu akupun hanya berharap ketulusan
Tak lebih dari itu sebagaimana telah kita sepakati
Lewat tatap mata dan halus kecupan bibir

KASIH  YANG  HILANG

Bersama bilur pilu yang terlarut disana
Kata kata pahit itu
Kalimat kalimat getir yang terangkai itu
Yang  menghadirkan siluet sayatan sayatan sisi hati
Luka memar, robek berdarah
Pun nada nada kisah pilu yang terngiang
Jika kalimat itu kucecap
Bersama lelehan dari butir tirta pembasuh netra
Tidak aku tidak tega melupakannya
Kan kueja baris per baris kisah dalam lembaran
Yang menghiasi hidup

KERINDUAN

Hati yang merintih karena rindu
Begitu pedih
Setelah engkau sematkan duri
Dalam kalbuku
Yang setiap saat menusukan perih
Menorehkan sebuah luka
Meneteskan duka yang teramat dalam
Menghapus  impian dan harapanku
Dalam kesepian yang membisu
Serta kekecewaan yang  melaut biru
Dalam menjalani hidup ini

BAYANG BAYANG DIRI

Malam yang sepi hening
Datang merajam hidupku
Kasih engkau tiba
Kehadiranmu mengalir menghanyutkan
seluruh derita dan rinduku
Keluh yang hanya kaku bertahun tahun

Kasih  akhirnya
Segala rindu dendamku terhampar jua
Hilang dalam desah rintih malam
Merambat pergi
Perlahan mengurai lapis lapis kegelapan
Hingga lepas bebas segala beban hidupku
Yang kian rapuh
Adakah ini dapat kucatatkan
Dalam cawan cawan hidupku lagi
Bangkit dari bayang bayang diri
Yang berlapis lapis hingga tidak tahu lagi
Beda antara rindu dan dendam
Antara tawa dan airma

ASA

Terendap laraku dihati yang meluap rindu
Terbelenggu jiwa dalam harapan
Yang selalu menyelimutiku
Aku lelah dengan redupnya hatiku
Ingin kuakhiri kisah galauku
Namun cinta
Terus saja memaksaku
Tuk terpaku pada satu titik asaku
Tentang dirimu
AROMA  DUKA

Ombak kerinduan
Selalu datang dan datang lagi
Bergulung dan mengalun ……
Menerpa dinding dinding hati
Yang rapuh dilanda sepi
Angin berbisik pilu
Menebarkan aroma duka
Mengiringi langkahku
Menyusuri jalan kehidupan
Mendaki ngarai kesunyian
Menuruni  lembah duka
Menggapai hari esok
Yang tak tahu pasti

RINDU

Ia putih seperti butiran salju
Tapi bukan kapas yang mudah diterbangkan angin
Ia tahu dirinya tipis bagaikan kertas
Tapi bukan tempat mencatat jejak, kisah dan sejarah

Ia hanya menampung luka yang tak pernah sembuh
Ia lebih lapar dari ular yang sedang puasa
Ia ingin menjadi sepiring daging
Agar semua bisa merasakan nyeri

Ia lebih mirip darah yang memiliki urat nadi
Yang melintasi lorong kegelapan di dalam tubuh
Ia pun selalu merindukan sebuah danau
dI tengah hutan yang setiap saat ia temui

Dimana semua rupa menjadi semu didalam air
Ia ingin menjadi cermin bagi semesta burung burung
Karena ia tahu hanya bayangan yang menipu kenyataan
Ia iklas akan rasa sakit  yang selalu datang setiap saat

Ia bukan sosok yang bisa dikenali
Ia hanya ingin menjadi api selamanya
Agar tabah ia menahan dingin dan sepi
Agar tidak sakit bila terbakar nanti

10 responses so far

Older Posts »